-->
Free backlink
<a href="http://www.mt5.com/id/">Portal Forex</a>

Saturday, March 3, 2012

Exponential Moving Average

Seperti yang kami katakan dalam pelajaran sebelumnya, simple moving average dapat terdistorsi oleh lonjakan harga. Kita akan mulai dengan contoh.

Katakanlah kita plot SMA 5-periode pada daily chart EUR / USD.

5-SMA on EUR/USD

harga penutupan selama 5 hari terakhir adalah sebagai berikut:

Hari 1: 1,3172
Hari 2: 1,3231

Hari 3: 1,3164

Hari 4: 1,3186

Hari 5: 1,3293

kalkulasinya sebagai berikut:

(1.3172 + 1.3231 + 1.3164 + 1.3186 + 1.3293) / 5 = 1.3209

mudah kan?

Bagaimana kalau hari kedua ada berita yang keluar yang mengakibatkan euro terjun bebas. hal ini mengakibatkan EUR/USD terjun ke harga 1.3000. mari kita lihat apa yang terjadi dengan  SMA periode 5.

Day 1: 1.3172
Day 2: 1.3000
Day 3: 1.3164
Day 4: 1.3186
Day 5: 1.3293

Moving Average akan dihitung seperti berikut :

(1.3172 + 1.3000 + 1.3164 + 1.3186 + 1.3293) / 5 = 1.3194

Hasil  dari perhitungan akan mengakibatkan perhitungan yang sangat rendah. padahalhal tersebt hanya terjadi karena adanya berita yang keluar.

Yang ingin kami jelaskan adalah bahwa kadang-kadang simple moving average mungkin terlalu sederhana. Kalau saja ada cara yang Anda bisa menyaring spike lonjakan harga tersebut sehingga Anda tidak akan mendapatkan sinyal yang salah. Hmm … Tunggu sebentar … Yap, ada jalan!

Ini disebut Exponential Moving Average !


EMA atau ada juga yang menyebut dengan XMA, merupakan penyempurnaan dari metode SMA. Seperti kita ketahui bahwa pembobotan SMA merupakan penyebab yang mengakibatkan terjadinya keterlambatan sinyal perubahan trend. Pemberian bobot pada EMA sama seperti juga pada WMA, melibatkan periode. Hanya saja perbedaannya jika pada WMA semakin panjang periode yang kita gunakan maka semakin besar bobot nilai terakhirnya, maka pada XMA terjadi sebaliknya yaitu semakin panjangperiode yang kita pakai maka semakin kecil pembobotan nilai terakhir yang kita pakai.

Ok, mari kita lihat contoh perhitungannya. Dibawah ini adalah perhitungan EMA 6 periode:
NoData Previous EMA EMA
1 25

2 24

3 28

4 24

5 26

6 27 25,666667 26,047619
7 29 26,047619 26,891155
8 30 26,891155 27,779396
9 31 27,779396 28,699567
10 30 28,699567 29,071119
11 29 29,071119 29,050799
12 31 29,050799 29,607713

Beberapa dari Anda yang memperhatikan data-data yang membosankan ini pastilah bertanya-tanya dari mana nilai previous EMA pada data nomor 6 karena bukankah kita belum sama sekali memiliki nilai EMA pada bagian sebelumnya? Jawabannya, nilai previous EMA tersebut adalah nilai SMA. Jadi, nilai EMA untuk data pertama adalah sama persis dengan nilai SMA. Dalam contoh diatas besarnya adalah 25,666667. Diperoleh dari (25+24+28+24+26+27)/6 = 25,666667. Sama persis dengan cara menghitung SMA bukan? (ayo lihat kembali pada bab sebelumnya!!).

EMA atau XMA pada nomor 6 diperoleh dari rumus diatas yaitu :
Image

Perhitungan terus dilakukan seperti cara diatas untuk memperoleh nilai EMA berikutnya. Tapi sudahlah, Anda tidak perlu melakukan perhitungan seperti saya karena semuanya sudah tersedia secara otomatis pada masa sekarang. Namun jika Anda tertarik untuk melakukan cross check dengan apa yang saya berikan, silakan saja. Tidak ada yang menghalangi Anda.
Exponential Moving Average  (EMA) memberikan berat untuk periode paling baru. Dalam contoh di atas, EMA akan menempatkan berat pada harga hari-hari paling baru, yang berarti hari 3, 4, dan 5.

Ini akan berarti bahwa lonjakan pada Hari 2 akan menjadi nilai lebih rendah dan tidak akan besar pengaruhnya terhadap moving average.

Mari kita lihat di grafik 4 jam pada USD / JPY untuk menyoroti bagaimana sebuah SMA dan EMA akan terlihat berdampingan pada grafik.

Exponential Moving Averages

Perhatikan bagaimana garis merah (30 EMA). Tampak harga lebih dekat dengan garis biru (30 SMA). Ini berarti bahwa lebih akurat menggunakan SMA. Anda mungkin bisa menebak mengapa hal ini terjadi.

Itu karena EMA lebih menekankan pada apa yang telah terjadi belakangan ini. Ketika trading, jauh lebih penting untuk melihat apa yang terjadi SEKARANG bukan apa yangtelah terjadi minggu lalu atau bulan lalu.
Aplikasi EMA

Secara keseluruhan, peraturan pada EMA adalah sama seperti pada SMA karena memang cara perhitungannya sama hanya memiliki perbedaan pada pembobotan nilai saja. Berikut ringkasannya:

No Posisi XMA Arti
1 XMA berada dibawah harga. Kondisi bullish / trend naik.
2 XMA berada diatas harga. Kondisi bearish / trend menurun.
3 XMA memotong harga dari bawah. Perubahan trend menuu bearish.
4 XMA memotong harga dari atas. Perubahan trend menuju bullish.
5 XMA periode lebih pendek memotong
XMA periode lebih panjang dari bawah.
Perubahan trend menuju bearish.
6 XMA periode lebih pendek memotong
XMA periode lebih panjang dari atas.
Perubahan trend menuju bullish.
7 XMA dengan periode lebih panjang berada
diatas XMA berperiode lebih pendek
Kondisi bearish / trend menurun.
8 XMA dengan periode lebih panjang berada
dibawah XMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bullish / trend naik.

Nah, gambar dibawah ini adalah aplikasi dalam memprediksi trend yang akan terjadi dengan menggunakan XMA. Cara penggunaannya sama persis dengan penggunaan pada SMA.
Image
Grafik GBP/USD, Daily. Diambil 1 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com


Penggunaan dengan memakai dua buah XMA juga dapat digunakan sama seperti pada SMA.
Image
Grafik GBP/USD, 1 hour. Diambil 04 Juli 2005.
Sumber : www.netdania.com

Ntu dibawah masih anyar artikelnya:



0 comments:

Post a Comment

FxSignals

Polico

FXpros

FXstreet

GainS