-->
Free backlink
<a href="http://www.mt5.com/id/">Portal Forex</a>
Showing posts with label Moving Average. Show all posts
Showing posts with label Moving Average. Show all posts

Saturday, March 3, 2012

Moving Average

Moving average hanya merupakan cara untuk melihat kelancaran aksi harga dari waktu ke waktu. Dengan “bergerak rata-rata”,  berarti bahwa Anda hanya mengambil harga penutupan rata-rata pasangan mata uang untuk periode nomor yang terakhir ‘X’ .
Jadi Moving average (MA) dapat diartikan sebagai pergerakan harga rata-rata dalam satu periode waktu tertentu. Moving average dapat dipergunakan untuk mengenali trend, sebagai area support-resistance, dan terkadang dapat juga digunakan untuk mengenali peluang reversal.
Pada grafik, akan terlihat seperti ini:

Moving Average of last 10 periods

Seperti setiap indikator, indikator moving average digunakan untuk membantu kita meramalkan harga di masa mendatang. Dengan melihat kemiringan rata-rata gerakan, Anda dapat lebih menentukan potensi arah harga pasar. Seperti yang kami katakan, aksi harga dengan gerakan rata-rata yang diperhalus.

moving average
Pada gambar di atas, kita bisa melihat penggunaan MA (garis berwarna merah) untuk mengenali trend yang tengah berlangsung. Jika harga berada di atas MA, dan MA membentuk kemiringan (naik), maka saat itu trend-nya adalah uptrend.
moving average 2
Pada saat uptrend, MA berfungsi sebagai support. Sedangkan pada saat downtrend, MA berfungsi sebagai resistance.
Karena MA juga berfungsi sebagai support dan resistance, maka ia juga bisa kita manfaatkan untuk menempatkan level buy maupun sell. Pada saat uptrend (MA sebagai support), kita bisa melakukan buy ketika harga mendekati MA. Pada saat downtrend (MA sebagai resistance), kita bisa melakukan sell ketika harga mendekati MA.
Terkadang para trader menggunakan kombinasi dua MA dengan periode yang berbeda untuk menghasilkan sinyal reversal.

Pada gambar di atas terlihat bawah ada dua MA yang dipakai, masing-masing memiliki periode yang berbeda, yaitu 50 dan 200. Periode ini bisa kita atur nanti dalam platform trading yang kita pakai (MySmart Trader).
Perpotongan kedua MA itulah yang menjadi sinyal akan ada perubahan arah trend. Kita perhatikan bahwa setelah kedua garis MA berpotongan, terjadi perubahan arah trend. Namun kita harus waspada menyikapi perpotongan dua MA ini, karena perpotongan MA ini sering menjadi ‘sinyal palsu’ apabila pasar sedang berada dalam keadaan sideway. Oleh karena itu kita harus melihat dulu, apakah pasar sedang dalam keadaan sideway atau trending.

Ada berbagai jenis moving average dan masing-masing memiliki tingkat “kelancaran” mereka sendiri. Umumnya, semakin mulus rata-rata gerakan, semakin lambat bereaksi terhadap pergerakan harga. Sekarang, anda mungkin berpikir, “Ayolah, kita langsung ke pokok masalah Bagaimana saya dapat menggunakannya untuk trading?.”
Pada bagian ini, pertama kita perlu menjelaskan kepada Anda dua jenis utama moving average:

  1. Sederhana (simple moving average)
  2. Eksponensial (exponential moving average)

pertama anda perlu mengetahui dasar-dasarnya dahulu !

Apakah Anda siap?

Simple Moving Average

Simple Moving Average adalah jenis yang paling sederhana moving average (huahuaa..!).
Pada dasarnya, Simple Moving Average dihitung dengan menjumlahkan harga penutupan terakhir “X” periode dan kemudian membagi jumlah tersebut dengan X.

Jika saya mempunyai data 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29 dan 30. Kemudian saya akan menerapkan metode SMA dengan 3 periode dan 4 periode maka hasilnya akan seperti ini:
Sampel SMA 3 periode
SMA 4 periode
23 - -
24 - -
25 = (23+24+25)/3 = 24 -
26 = (24+25+26)/3 = 25 (23+24+25+26)/4 = 24.5
27 = (25+26+27)/3 = 26 (24+25+26+27)/4 = 25.5
28 = (26+27+28)/3 = 27 (25+26+27+28)/4 = 26.5
29 = (27+28+29)/3 = 28 (26+27+28+29)/4 = 27.5
30 = (28+29+30)/3 = 29 (27+28+29+30)/4 = 28.5

Perhatikan gambar Simple Moving Average dengan periode 10 berikut:

Image


Bingung?

Jangan khawatir, kami akan membuatnya sejelas kristal.

Jika Anda merencanakan untuk jangka waktu 5  Simple Moving Average pada grafik 1-jam, Anda akan menambah harga penutupan selama 5 jam terakhir, dan kemudian membagi jumlahnya dengan 5. Voila! Anda memiliki harga penutupan rata-rata selama lima jam terakhir! String harga tersebut rata-rata sama dan Anda mendapatkan rata-rata yang bergerak!

Jika Anda plot sederhana 5-Simple Moving Average pada grafik 10 menit, Anda akan menambah harga penutupan dari 50 menit terakhir dan kemudian bagi jumlahnya dengan 5.

Jika Anda plot jangka waktu 5 Simple Moving Average pada grafik 30 menit, Anda akan menambah harga penutupan dari 150 menit terakhir dan kemudian bagi jumlahnya dengan 5.

Jika Anda plot periode 5 Simple Moving Average pada chart 4 jam … Oke, oke, kita tahu, kita tahu. Anda mendapatkan gambaran itu!

paket charting Kebanyakan akan melakukan semua perhitungan untuk Anda.Alasan menjelaskan “bagaimana” cara menghitung Simple Moving Average adalah karena itu penting untuk dipahami sehingga Anda tahu cara mengedit dan tweak indikator tersebut.

Memahami bagaimana indikator bekerja berarti Anda dapat mengatur dan menciptakan strategi yang berbeda.

Sekarang, seperti hampir semua indikator lain di luar sana, Moving Average beroperasi dengan delay. Karena Anda mengambil harga rata-rata sejarah masa lalu, Anda benar-benar hanya melihat masa lalu dan  ”masa depan” harga jangka pendek.

Berikut adalah contoh bagaimana Simple Moving Average memperlancar analisa harga.

Simple Moving Averages

Pada grafik di atas, kami telah memasang tiga SMA berbeda pada chart 1 jam pada USD / CHF. Seperti yang anda lihat, semakin besar period SMA, semakin tertinggal harganya.

Perhatikan bagaimana 62 SMA berada jauh dari harga saat ini dari 30 dan 5 SMA.

Hal ini karena 62 SMA menambahkan sampai harga penutupan 62 periode terakhir dan membaginya dengan 62.

SMA dalam tabel ini menunjukkan Anda keseluruhan sentimen pasar pada titik waktu ini. Di sini, kita dapat melihat bahwa pasangan ini trennya naik.

Alih-alih hanya melihat pada harga pasar saat ini, moving average memberi kita pandangan yang lebih luas, dan kita sekarang dapat mengukur secara umum arah harga masa depan. Dengan menggunakan SMA, kita bisa tahu apakah pasangan trenya naik, tren turun, atau hanya sideway.

Ada satu masalah dengan simple moving average dan hal itu bahwa mereka rentan terhadap lonjakan. Ketika hal ini terjadi, hal ini dapat memberi kita sinyal palsu. Kita mungkin berpikir bahwa tren baru dapat berkembang, tetapi dalam kenyataannya, tidak ada yang berubah.

Dalam pelajaran berikutnya, kami akan menunjukkan apa yang kita maksud, dan juga memperkenalkan Anda kepada jenis lain moving average untuk menghindari masalah ini.
Aplikasi SMA

Ada beberapa kegunaan dari SMA. Secara garis besar dapat digunakan untuk hal-hal berikut:
1. Menentukan trend yang akan terjadi.
2. Menentukan titik support dan resistance.
3. Memuluskan indikator lain yang terlalu bergerigi.
Pada bagian ini saya akan membahas mengenai menentukan trend dengan memakai SMA. Menentukan titik resistance dan support serta memuluskan indikator saya bahas pada bagian lainnya dari CD ini (pasti saya bahas kok…., jangan khawatir.)
Nah,untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan lagi grafik SMA barusan:
Image

Apakah Anda melihat sesuatu dari grafik ini (ayolah, sedikit lebih cerdas lagi…...). Ya Benar! Disini dapat kita lihat bahwa apabila harga bergerak naik, SMA berada dibawah dari candlestick dan sebaliknya bila harga bergerak turun maka SMA berada diatas candlestick. Tentu saja penerapan periode yang tepat amat membantu disini. Apabila terjadi crossing antara harga dengan SMA, dapat kita ketahui bahwa akan terjadi perubahan arah trend.

Nah, bagaimana kalau kita menggunakan dua buah SMA dengan dua periode yang berbeda? Hmm.. sangat menarik. Kita akan segera tahu bagaimana hasilnya:
Image

Lebih memudahkan bukan? Dengan penggunaan dua SMA dengan dua periode yang berbeda kita dapat lebih akurat lagi memprediksikan kemana harga akan bergerak. Apabila telah terjadi perpotongan antara harga dengan kedua SMA maka akan dipastikan harga kan berubah arahnya. Dengan demikian kita memiliki tiga buah perpotongan garis yaitu perpotongan antara SMA 20 dan SMA 40 dan perpotongan SMA 20 dengan harga serta perpotongan SMA 40 dengan harga. Dapat kita catat bahwa apabila rentang antara kedua SMA semakin besar maka kemungkinan trend akan terus berlangsung dan bila mulai terjadi penyempitan jarak diantara keduanya dan sampai terjadi perpotongan kebali, bisa disimpulkan bahwa trend sudah berakhir. Mudah bukan?

Lalu bagai mana dengan periode? Sayangnya sampai saat ini belum ada aturan pencarian periode yang tepat untuk dipakai. Memang perlu banyak-benyak berlatih dan mencoba (trial and error). Perlu Anda catat bahwa penggunaan periode dapat berubah-ubah menurut kebutuhan meskipun pada pair yang sama karena memang kondisi sebuah mata uang adalah dinamis dari waktu kewaktu.

Nah, saya sarikan penggunaan SMA untuk membaca trend dalam bentuk tabel sbb:
No Posisi SMA Arti
1 SMA berada dibawah harga. Kondisi bullish / trend naik.
2 SMA berada diatas harga. Kondisi bearish / trend menurun.
3 SMA memotong harga dari bawah. Perubahan trend menuu bearish.
4 SMA memotong harga dari atas. Perubahan trend menuju bullish.
5
SMA periode lebih pendek memotong
SMA periode lebih panjang dari bawah.
Perubahan trend menuju bearish.
6 SMA periode lebih pendek memotong
SMA periode lebih panjang dari atas.
Perubahan trend menuju bullish.
7 SMA dengan periode lebih panjang berada diatas
SMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bearish / trend menurun.
8 SMA dengan periode lebih panjang berada dibawah
SMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bullish / trend naik


Exponential Moving Average

Seperti yang kami katakan dalam pelajaran sebelumnya, simple moving average dapat terdistorsi oleh lonjakan harga. Kita akan mulai dengan contoh.

Katakanlah kita plot SMA 5-periode pada daily chart EUR / USD.

5-SMA on EUR/USD

harga penutupan selama 5 hari terakhir adalah sebagai berikut:

Hari 1: 1,3172
Hari 2: 1,3231

Hari 3: 1,3164

Hari 4: 1,3186

Hari 5: 1,3293

kalkulasinya sebagai berikut:

(1.3172 + 1.3231 + 1.3164 + 1.3186 + 1.3293) / 5 = 1.3209

mudah kan?

Bagaimana kalau hari kedua ada berita yang keluar yang mengakibatkan euro terjun bebas. hal ini mengakibatkan EUR/USD terjun ke harga 1.3000. mari kita lihat apa yang terjadi dengan  SMA periode 5.

Day 1: 1.3172
Day 2: 1.3000
Day 3: 1.3164
Day 4: 1.3186
Day 5: 1.3293

Moving Average akan dihitung seperti berikut :

(1.3172 + 1.3000 + 1.3164 + 1.3186 + 1.3293) / 5 = 1.3194

Hasil  dari perhitungan akan mengakibatkan perhitungan yang sangat rendah. padahalhal tersebt hanya terjadi karena adanya berita yang keluar.

Yang ingin kami jelaskan adalah bahwa kadang-kadang simple moving average mungkin terlalu sederhana. Kalau saja ada cara yang Anda bisa menyaring spike lonjakan harga tersebut sehingga Anda tidak akan mendapatkan sinyal yang salah. Hmm … Tunggu sebentar … Yap, ada jalan!

Ini disebut Exponential Moving Average !


EMA atau ada juga yang menyebut dengan XMA, merupakan penyempurnaan dari metode SMA. Seperti kita ketahui bahwa pembobotan SMA merupakan penyebab yang mengakibatkan terjadinya keterlambatan sinyal perubahan trend. Pemberian bobot pada EMA sama seperti juga pada WMA, melibatkan periode. Hanya saja perbedaannya jika pada WMA semakin panjang periode yang kita gunakan maka semakin besar bobot nilai terakhirnya, maka pada XMA terjadi sebaliknya yaitu semakin panjangperiode yang kita pakai maka semakin kecil pembobotan nilai terakhir yang kita pakai.

Ok, mari kita lihat contoh perhitungannya. Dibawah ini adalah perhitungan EMA 6 periode:
NoData Previous EMA EMA
1 25

2 24

3 28

4 24

5 26

6 27 25,666667 26,047619
7 29 26,047619 26,891155
8 30 26,891155 27,779396
9 31 27,779396 28,699567
10 30 28,699567 29,071119
11 29 29,071119 29,050799
12 31 29,050799 29,607713

Beberapa dari Anda yang memperhatikan data-data yang membosankan ini pastilah bertanya-tanya dari mana nilai previous EMA pada data nomor 6 karena bukankah kita belum sama sekali memiliki nilai EMA pada bagian sebelumnya? Jawabannya, nilai previous EMA tersebut adalah nilai SMA. Jadi, nilai EMA untuk data pertama adalah sama persis dengan nilai SMA. Dalam contoh diatas besarnya adalah 25,666667. Diperoleh dari (25+24+28+24+26+27)/6 = 25,666667. Sama persis dengan cara menghitung SMA bukan? (ayo lihat kembali pada bab sebelumnya!!).

EMA atau XMA pada nomor 6 diperoleh dari rumus diatas yaitu :
Image

Perhitungan terus dilakukan seperti cara diatas untuk memperoleh nilai EMA berikutnya. Tapi sudahlah, Anda tidak perlu melakukan perhitungan seperti saya karena semuanya sudah tersedia secara otomatis pada masa sekarang. Namun jika Anda tertarik untuk melakukan cross check dengan apa yang saya berikan, silakan saja. Tidak ada yang menghalangi Anda.
Exponential Moving Average  (EMA) memberikan berat untuk periode paling baru. Dalam contoh di atas, EMA akan menempatkan berat pada harga hari-hari paling baru, yang berarti hari 3, 4, dan 5.

Ini akan berarti bahwa lonjakan pada Hari 2 akan menjadi nilai lebih rendah dan tidak akan besar pengaruhnya terhadap moving average.

Mari kita lihat di grafik 4 jam pada USD / JPY untuk menyoroti bagaimana sebuah SMA dan EMA akan terlihat berdampingan pada grafik.

Exponential Moving Averages

Perhatikan bagaimana garis merah (30 EMA). Tampak harga lebih dekat dengan garis biru (30 SMA). Ini berarti bahwa lebih akurat menggunakan SMA. Anda mungkin bisa menebak mengapa hal ini terjadi.

Itu karena EMA lebih menekankan pada apa yang telah terjadi belakangan ini. Ketika trading, jauh lebih penting untuk melihat apa yang terjadi SEKARANG bukan apa yangtelah terjadi minggu lalu atau bulan lalu.
Aplikasi EMA

Secara keseluruhan, peraturan pada EMA adalah sama seperti pada SMA karena memang cara perhitungannya sama hanya memiliki perbedaan pada pembobotan nilai saja. Berikut ringkasannya:

No Posisi XMA Arti
1 XMA berada dibawah harga. Kondisi bullish / trend naik.
2 XMA berada diatas harga. Kondisi bearish / trend menurun.
3 XMA memotong harga dari bawah. Perubahan trend menuu bearish.
4 XMA memotong harga dari atas. Perubahan trend menuju bullish.
5 XMA periode lebih pendek memotong
XMA periode lebih panjang dari bawah.
Perubahan trend menuju bearish.
6 XMA periode lebih pendek memotong
XMA periode lebih panjang dari atas.
Perubahan trend menuju bullish.
7 XMA dengan periode lebih panjang berada
diatas XMA berperiode lebih pendek
Kondisi bearish / trend menurun.
8 XMA dengan periode lebih panjang berada
dibawah XMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bullish / trend naik.

Nah, gambar dibawah ini adalah aplikasi dalam memprediksi trend yang akan terjadi dengan menggunakan XMA. Cara penggunaannya sama persis dengan penggunaan pada SMA.
Image
Grafik GBP/USD, Daily. Diambil 1 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com


Penggunaan dengan memakai dua buah XMA juga dapat digunakan sama seperti pada SMA.
Image
Grafik GBP/USD, 1 hour. Diambil 04 Juli 2005.
Sumber : www.netdania.com

SMA vs EMA

Sekarang, anda mungkin bertanya pada diri sendiri, mana yang lebih baik? Yang sederhana atau eksponensial?
Pertama, mari kita mulai dengan exponential moving average. Bila Anda ingin moving average yang akan merespon harga yang bergerak cepat, maka  EMA adalah cara terbaik.
Ini dapat membantu Anda menangkap tren sangat dini (lebih lanjut tentang ini nanti), yang akan menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Bahkan, sebelumnya Anda menangkap tren, semakin lama Anda bisa menahan OP dan meraup keuntungan yang banyak.
Kelemahan menggunakan Exponential moving average adalah bahwa Anda mungkin mendapatkan sinyal palsu  selama periode konsolidasi (oh tidak!).
Karena moving average begitu cepat merespon harga, Anda mungkin berpikir sebuah tren yang terbentuk  ketika itu hanya spike harga.
Dengan simple moving average, adalah sebaliknya. Bila Anda ingin moving average  yang lebih halus dan lebih lambat untuk merespon aksi harga, maka SMA adalahpilihan yang terbaik.
Hal ini akan bekerja dengan baik ketika melihattime frame yang lebih lama, karena bisa memberi Anda gambaran mengenai tren secara keseluruhan.
Meskipun lambat untuk merespon tindakan harga, hal itu mungkin bisa menyelamatkan Anda dari sinyal palsu. kekuranganya adalah bahwa Anda mungkin menunda terlalu lama, dan Anda mungkin kehilangan harga entri yang baik.
Sebuah analogi mudah diingat perbedaan antara keduanya adalah untuk memikirkan kelinci dan kura-kura.
Hare = EMA. Toirtoise = SMA
kura-kura yang lambat, seperti SMA, jadi anda mungkin kehilangan untuk mendapatkan sinyal pada awal tren. Namun, ia memiliki cangkang keras untuk melindungi diri, dan sama, menggunakan SMA akan membantu Anda terhindar dari jebakan.
Di sisi lain, kelinci cepat, seperti EMA. Ini membantu Anda menangkap awal dari sebuah tren tetapi Anda munkin mendapatkan sinyal palsu.
Di bawah ini adalah tabel untuk membantu Anda mengingat pro dan kontra masing-masing.

SMA EMA
Pro Menampilkan grafik halus yang menghilangkan sinyal palsu. Bergerak cepat dan baik untuk menunjukkan perubahan harga terbaru.
Kont Bergerak lambat, yang dapat menyebabkan sinyal telat dalam pembelian dan penjualan Lebih rentan mendapatkan sinyal palsu
Jadi mana yang lebih baik?
Ini benar-benar terserah Anda untuk memutuskan.
Ada sejumlah strategi trading yang dibangun dengan menggunakan moving average. Dalam pelajaran berikut, kita akan mengajarkan kepada Anda:
  1. Cara menggunakan moving average untuk menentukan tren
  2. Bagaimana menggabungkan moving average crossover ke sistem trading anda
  3. Bagaimana moving average dapat digunakan sebagai support dan resistance yang dinamis
Waktu untuk istirahat! Pergi mencari grafik dan mulai bermain dengan moving average! Cobalah berbagai jenis dan mencoba bereksperimen dengan periode yang berbeda. Pada waktunya, anda akan menemukan moving average yang paling cocok untuk Anda.

Menggunakan Moving Average

Salah satu cara yang manis untuk menggunakan moving average adalah untuk membantu Anda menentukan tren.
Cara termudah adalah dengan hanya plot moving average tunggal pada tabel. Ketika harga cenderung untuk tinggal di atas moving average,  berarti trendnya naik.
Jika harga cenderung tinggal di bawah moving average, maka menunjukkan bahwa trend menurun.
Trend spotting using moving average
Masalahnya dengan hal ini adalah bahwa itu terlalu sederhana.
Mari kita katakan bahwa USD / JPY trendnya turun, tetapi laporan berita yang keluar menyebabkan spike yang tinggi.
Is there a change in trend?
Anda melihat bahwa harga sekarang di atas rata-rata bergerak. Anda berpikir kepada diri sendiri:
“Hmmm … Sepertinya pasangan ini adalah untuk pergeseran arah Waktu untuk membeli pengisap ini.!”
Jadi Anda melakukan hal itu. Anda membeli satu miliar unit menyebabkan Anda yakin bahwa USD / JPY akan naik.
Fakeout! Downtrend continues!
Bammm! ! Ternyata, trader hanya bereaksi terhadap berita, tetapi trend tetap turun dan lebih rendah!
Apa beberapa trader yang melakukan – dan  kami sarankan Anda jangan melakukan juga. Untuk mempermudah mendapatkan sinyal yang lebih jelas apakah pasangan ini tren naik atau turun tergantung pada urutan moving average. Mari kita jelaskan.
Pada uptrend, yang “lebih cepat” moving average harus berada di atas “lebih lambat” rata-rata bergerak dan kecenderungan untuk menurun, sebaliknya.Sebagai contoh, katakanlah kita memiliki dua MA: 10-periode MA dan MA periode 20. Pada grafik Anda, akan terlihat seperti ini:
Faster MA should be above slower MA
Di atas adalah daily chart USD / JPY. Sepanjang uptrend, 10 SMA di atas 20 SMA. Seperti yang Anda lihat, Anda dapat menggunakan moving average untuk membantu menunjukkan apakah pasangan adalah tren naik  atau turun. Menggabungkan ini dengan pengetahuan Anda pada garis tren, ini dapat membantu Anda memutuskan apakah akan buy atau sell .
Anda juga dapat mencoba menempatkan lebih dari dua moving average pada chart Anda.

Moving Average Crossover

Sekarang, Anda tahu bagaimana menentukan trend dengan memplot moving average pada grafik anda. Anda juga harus tahu bahwa moving average dapat membantu Anda menentukan kapan tren berakhir dan sebaliknya.
Yang harus Anda lakukan adalah plot beberapa moving average pada chart Anda, dan menunggu sebuah crossover (persilangan). Jika moving average menyilang satu sama lain, itu berarti sinyal bahwa tren akan segera berubah, sehingga memberikan kesempatan kepada Anda untuk mendapatkan entri yang lebih baik. Dengan memiliki entri yang lebih baik, Anda memiliki kesempatan mendapatkan profit yang banyak!
Jika Allen Iverson mencari nafkah dengan memiliki langkah menyilang yang mematikan, mengapa anda tidak?
Killer crossovers can help you bag pips
Mari kita melihat lagi bahwa daily chart USD / JPY menunjukkan moving average crossover.
Moving average crossovers can signal change in trend
Dari sekitar April sampai Juli, pasangan berada dalam uptrend yang bagus. keluar sekitar 124,00, sebelum perlahan-lahan menuju ke bawah. Pada pertengahan Juli, kita melihat bahwa 10 SMA menyeberang di bawah 20 SMA.
Dan apa yang terjadi selanjutnya?
Sebuah trend menurun yang bagus!
Jika Anda sell di crossover SMA, akan menghasilkan hampir seribu pips!
Tentu saja, tidak setiap perdagangan akan menghasilkan seribu pip,  seratus-pip, atau bahkan 10-pip.
Ini bisa menjadi sinyal yang palsu, yang berarti Anda harus mempertimbangkan hal-hal seperti di mana kita harus menempatkan stop loss atau kapan harus mengambil keuntungan. Anda tidak boleh melompat masuk pasar tanpa rencana!
Satu hal yang perlu dicatat dengan sistem crossover adalah bahwa ketika mereka bekerja dalam pasar yang volatile, mereka tidak bekerja dengan baik ketika trend sideway.

Support Resistance Dinamis

Cara lain untuk menggunakan moving average adalah dengan menggunakan mereka sebagai  support dan resistance dinamis.
Kami ingin menyebutnya dinamis karena hal itu tidak seperti support resistance tradisional. Mereka akan terus berubah tergantung pada aksi harga terbaru.
Ada banyak pedagang di luar sana yang melihat moving average ini sebagai support resistance utama. Trader akan melakukan beli jika harga menguji moving average atau sell jika harga naik dan menyentuh moving average.
Berikut adalah chart 15-menit dari GBP / USD dan mengetest pada 50 EMA. Mari kita lihat support resistance dinamis.
Moving averages can also act as dynamic support and resistance
Setiap kali harga mendekati 50 EMA dan diuji, itu bertindak sebagai perlawanan dan harga memantul kembali. Menakjubkan, huh?
Satu hal yang harus diingat adalah bahwa hal ini hanya seperti support resistance garis normal.
Ini berarti harga tidak akan selalu memantul sempurna dari movinga average. Kadang-kadang akan melewatinya sedikit sebelum kembali ke arah tren.
Anda bisa menyebut daerah ini sebagai  ”zona”.
Mari kita lihat lagi pada chart 15-menit dari GBP / USD, tapi kali ini mari kita menggunakan 10 dan 20 EMAS.
Area between moving averages can be a zone of support or resistance
Dari grafik di atas, Anda melihat harga melewati 10 EMA beberapa pips, tetapi mulai menurun setelah itu.
Ada beberapa trader yang menggunakan strategi intraday seperti ini. Idenya adalah bahwa hanya seperti support resistance horisontal, moving average harus diperlakukan seperti zona.
Daerah antara moving average bisa dipandang sebagai zona support atau resistance.

Menerobos Support Resistance Dinamis

Sekarang Anda tahu bahwa moving average berpotensi dapat bertindak sebagai support dan resistance. Menggabungkan beberapa dari mereka, Anda dapat memiliki sendiri zona kecil yang menyenangkan. Tapi Anda juga harus tahu bahwa mereka dapat rusak, seperti setiap tingkat support dan resistance!
Mari kita lihat lagi pada grafik GBP / 15-mnt s USD ‘ dengan 50 EMA.
Moving averages acting as resistance turned support
Dalam chart di atas, kita bisa melihat bahwa 50 EMA sebagai level support yang kuat untuk sementara pada GBP / USD karena berulang kali memantul.
Namun, seperti yang kita telah ditandai dengan kotak merah, harga akhirnya berhasil menembus dan terangkat naik. Harga kemudian kembali dan menguji EMA 50 lagi, yang terbukti menjadi tingkat dukungan yang kuat.
Satu hal yang menyenangkan waktu menggunakan moving averages adalah bahwa mereka selalu berubah, yang berarti Anda hanya bisa meninggalkan tempat pada chart Anda dan tidak harus terus menerus mencari kembali potensi support dan resistance.

Ringkasan Moving Average

Moving averages smooth out price action
  • dari banyak jenis moving average. Dua jenis yang paling umum adalah simple moving average dan eksponensial moving average.
  • simple moving average adalah bentuk paling sederhana moving average, tetapi mereka rentan terhadap lonjakan (spike) harga.
  • eksponensial moving average bergerak menempatkan titik berat terhadap harga terbaru, yang berarti lebih menekankan pada apa yang para trader lakukan sekarang.
  • Hal ini jauh lebih penting untuk mengetahui apa yang para trader lakukan sekarang daripada melihat apa yang mereka lakukan minggu lalu atau bulan lalu.
  • moving average lebih halus daripada eksponensial moving average .
  • Menggunakan eksponensial moving average dapat membantu Anda melihat tren lebih cepat, tetapi rentan terhadap sinyal palsu.
  • Smooth moving average lebih lambat untuk merespon tindakan harga namun akan menyelamatkan Anda dari spike. Namun, karena reaksi lambat, mereka dapat menunda Anda dari mengambil kesempatan untuk memasuki pasar dan dapat menyebabkan Anda kehilangan beberapa peluang bagus.
  • Anda dapat menggunakan moving average untuk membantu Anda menentukan tren, kapan harus masuk, dan ketika tren tersebut akan segera berakhir.
  • Moving average dapat digunakan sebagai support dan resistance dinamis.
  • Salah satu cara terbaik untuk menggunakan moving average adalah menggunakan beberapa moving average sehingga Anda bisa melihat kedua gerakan jangka panjang dan jangka pendek.

Weighted Moving Average (WMA)

Pertanyaan pertama yang timbul di benak kita adalah apakah perbedaan SMA dengan WMA? Tentu saja ada perbedaannya. Cukup berbeda sehingga diklasifikasikan menjadi dua bagian. Tidak cukup banyak berbeda sehingga nama mereka mirip karena menggunakan metodologi yang sama, hanya caranya yang berbeda.

Bayangkan begini: Manakah harga yang memiliki bobot penekanan yang lebih besar dalam memprediksi harga didepan, harga satu jam terakhir yang kita miliki atau harga dua bulan lalu yang kita miliki? Tentu saja yang satu jam terakhir. Paling tidak pergerakan harga tidak satu jam terakhir akan lebih representatif dalam memprediksi harga didepan apabila dibandingkan dengan harga dua bulan yang lalu.

Atau jika kita aplikasikan dengan kehidupan sehari-hari, ambillah kita akan membeli sebuah telepon genggam. Tentu saja kita akan mencari tahu harga telepon genggam tersebut dalam rentang waktu terakhir. Nah, mungkin kita akan lebih memperhatikan harga satu hari yang lalu dibandingkan harga dua minggu yang lalu karena menurut hemat kita pastilah pergerakan harga tidak akan berbeda jauh dengan harga satu hari lalu.

Bobot penilaian inilah yang diatur oleh WMA. Pada SMA, bobot setiap harga baik dua minggu lalu atau pun dua hari yang lalu memiliki bobot penilaian yang sama. Pada WMA data terakhir memiliki bobot yang lebih besar nilainya dibandingkan harga-harga sebelumnya.
Pembobotan nilai pada WMA akan tergantung pada panjang periode yang kita tetapkan. Semakin panjang periode yang ditetapkan, maka semakin besar pula pembobotan yang diberikan pada data terbaru. Perhatikan tabel sederhana dibawah:

No Data Bobot WMA
untuk 2 periode
Bobot WMA
untuk 5 periode
Bobot WMA
untuk 7 periode
1 20


2 25


3 28

1
4 23

2
5 24
1 3
6 22
2 4
7 21
3 5
8 20 1 4 6
9 19 2 5 7

Dari sini terlihat pada WMA dengan 2 periode, maka dua data terakhirlah yanga akan dihitung. Semakin besar periode maka data terakhir akan semakin besar bobot penilaiannya.

Dalam bentuk matematis, WMA dirumuskan sebagai berikut:
Image

Sebagai contoh, mari kita hitung WMA untuk 8 periode:
NoData
Bobot
Data x Bobot
WMA untuk 8 periode
1 25 1 25
2 26 2 52
3 23 3 69
4 27 4 108
5 29 5 145
6 23 6 138
7 21 7 147
8 20 8 160 = 844/36 = 23,44


36 844

Nah, tidak sulit bukan. Ini hanyalah untuk menjawab pertanyaan Anda dari mana sebenarnya perhitungan WMA itu diperoleh. Pada kenyataannya kita tidak perlu lagi melakukan perhitungan manual seperti ini dan mengeplotnya satu per satu pada kertas bergaris. Cukup dengan menggunakan software Streamster pada kita langsung dapat mengetahui nilai WMA untuk setiap harga mata uang.

Aplikasi WMA
Secara keseluruhan, peraturan pada WMA adalah sama seperti pada SMA karena memang cara perhitungannya sama hanya memiliki perbedaan pada pembobotan nilai saja. Berikut ringkasannya:
No Posisi WMA Arti
1 WMA berada dibawah harga. Kondisi bullish / trend naik.
2 WMA berada diatas harga. Kondisi bearish / trend menurun.
3 WMA memotong harga dari bawah. Perubahan trend menuu bearish.
4 WMA memotong harga dari atas. Perubahan trend menuju bullish.
5 WMA periode lebih pendek memotong
WMA periode lebih panjang dari bawah.
Perubahan trend menuju bearish.
6 WMA periode lebih pendek memotong
WMA periode lebih panjang dari atas.
Perubahan trend menuju bullish.
7 WMA dengan periode lebih panjang berada
diatas WMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bearish / trend menurun.
8 WMA dengan periode lebih panjang berada
dibawah WMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bullish / trend naik.

Nah, gambar dibawah ini adalah aplikasi dalam memprediksi trend yang akan terjadi dengan menggunakan WMA. Cara penggunaannya sama persis dengan penggunaan pada WMA.
Image
Grafik GBP/USD, Daily. Diambil 1 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com

Dan dibawah ini pemakaian WMA dengan dua periode yang berlainan:
Image
Grafik GBP/USD, Daily. Diambil 1 Juli 2005. Sumber : www.netdania.com

Terlihat WMA lebih responsif dalam memprediksi perubahan trend pada USD/GBP. Setiap titik peralihan trend tepat berada pada candlestick terakhir trend yang sedang berlangsung. Perhatikan juga pada gambar di atas akan terjadi kembali perubahan trend dari bullish menuju bearish. Dalam hal ini pemilihan periode yang tepat juga berpengaruh pada presisi penentuan trend.

Apakah metode pembobotan pada WMA merupakan metode pembobotan yang paling cepat dalam memberikan perubahan trend? Tidak. Pada WMA pembobotan dilakukan tidak menyertakan nilai WMA sebelumnya. Pada bagian setelah ini kita akan melihat metode rata-rata bergerak yang melibatkan fungsi eksponensial dalam melakukan pembobotannya. Hasilnya adalah pemberian sinyal peralihan yang dapat lebih dini. Exponential Moving Average (EMA).

Monex